Consultation

Donny A. Wiguna CFP, QWP, AEPP, QFE adalah QUALIFIED FINANCIAL EDUCATOR, dari FPSB sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Melayani konsultasi dan bantuan penjelasan serta pelatihan Asuransi, Investasi, Dana Pensiun, dan Estate Planning. Berpengalaman mengajar dalam keuangan sejak 2007.

Hubungi Donny A. Wiguna dengan SMS atau Whatsapp di 0818-222-634
Area Bandung dan Jakarta serta sekitarnya.

Pencarian

Saturday, March 17, 2018

MEMBAYAR MASA DEPAN

Kita semua berharap mempunyai masa depan. Kita berharap berumur panjang. Pertanyaannya, apakah kita mempersiapkan masa depan yang akan datang itu?

Oooh, kan kita tidak tahu masa depan seperti apa Pak!Ya betul, kita tidak tahu.... lantas, karena kita tidak tahu maka kita TIDAK mempersiapkan? Itu dua hal berbeda. Kita tidak tahu kalau besok ada seseorang pengusaha kaya raya yang tiba2 begitu tergerak untuk memberikan perusahaannya menjadi milik kita, atau seperti menang lotere, dapat miliaran. Kita juga tidak tahu kalau besok kita mengalami kecelakaan sehingga patah tulang leher dan menjadi lumpuh dari leher ke bawah sepanjang sisa umur kita. Kita tidak tahu.

Tapi, kita tidak berharap dapat lotere, juga tidak ingin kena musibah. Amit-amit! Seperti apakah masa depan yang kita peroleh? Apakah kita tidak akan MENGUSAHAKANNYA?

Seperti dibilang, semua hal baik ada harganya yang harus dibayar. Mau masa depan baik? Apakah kita telah MEMBAYAR MASA DEPAN? Adakah kita yang muda, bertenaga, berkemampuan di HARI INI, telah membayar secara rutin untuk diri kita yang tua, lemah, tidak produktif di MASA DEPAN?

Apa yang kita butuhkan di masa depan? Ya, kita perlu uang. Tetapi karena kita tinggal di sebuah negara dan ada pemerintahan, kita juga butuh PEMERINTAH.

Kita perlu BAYAR HARGA dengan menilai tinggi HAK MEMILIH yang kita miliki untuk pemimpin dan wakil rakyat yang BENAR. Apakah kita mau dibayar Rp 500.000 supaya hak suara kita diberikan kepada seseorang atau pasangan?

Hitung yuk. Suara kita dihargai Rp 500.000 untuk pejabat yang berkuasa selama 5 TAHUN. Itu artinya, kita dibayar
Rp 100.000 per TAHUN untuk menyetujui pejabat itu bekerja. Itu berarti Rp 8.334 per BULAN. Kalau orang digaji Rp 2.000.000 per bulan, itu adalah 4,167% dari gaji bulanan.

Anda mau nggak sehari digaji hanya Rp 8500? Nggak kan?

Kenapa mau dibayar Rp 500.000 untuk hak suara Anda?

Ketika kita memilih Pemimpin yang baik, tujuannya adalah memperoleh KESEMPATAN KERJA PRODUKTIF yang besar agar kita bisa bekerja dengan baik. Pemimpin yang baik itu BUKAN SINTERKLAS. Kita tidak bisa berharap hadiah atau bantuan langsung tunai yang dihabiskan dalam waktu singkat.

Kita perlu MEMBAYAR MASA DEPAN, itu berarti kita harus berinvestasi. Itu berarti kita harus mampu menyisihkan sejumlah dana setiap bulan secara rutin, setiap bulan. Jika kita mempunyai kebiasaan invest Rp 2juta setiap bulan di sebuah sarana investasi yang memberi return 10% per tahun, maka dalam waktu 10 tahun kita sudah memperoleh dana sebesar Rp 409.689.958. Dalam waktu 20 tahun kita memperoleh dana Rp 1.518.737.671.

Moga-moga cukup untuk pensiun. Investasi dilakukan di REKSA DANA, saya memilih reksa dana saham, semuanya diregulasi oleh OJK. Pelajari dulu profil diri sebagai investor dan risiko investasi yang diambil ya!

Pertanyaannya, bagaimana caranya bisa menabung Rp 2 juta TIAP BULAN selama 20 tahun, tanpa terhenti? Itu berarti kita harus bekerja, harus berusaha dengan baik. Kita tidak akan meminta-minta tiap bulan, bukan? Dengan pemerintahan yang baik, regulasi yang baik, tidak ada korupsi, kita bisa kerja dengan SIAPA SAJA.... maka ada peluang untuk melakukan apa yang harus kita lakukan. KITA BISA BAYAR HARGA.

Apa yang terjadi ketika kita memilih pemimpin karena DIBAYAR? Mereka yang berkuasa karena membayar adalah mereka yang TIDAK MAMPU untuk mengemban jabatan berdasarkan kompetensinya sendiri. Bayangkan apa yang terjadi ketika orang yang tidak mampu, tidak kompeten, menduduki jabatan penting yang mempengaruhi hidup semua orang!

Mereka toh naik karena mereka MEMBAYAR. Setelah naik jabatan, urusan mereka adalah BALIK MODAL. Masa bodoh dengan rakyat yang SUDAH DIBAYAR.... kalau sudah terima duit, tidak bisa protes siapapun yang bayar! Menerima uang itu adalah bentuk korupsi, tidak benar. Kalau sudah tidak benar, maka kehilangan HAK untuk menuntut.... hak itu sudah dibeli oleh uang yang kecil nilainya.

Jangan ngomong bahwa yang melakukan money politic itu akan melakukan hal benar. Koruptor tidak ada yang benar.

Ketika pemimpin yang benar sudah naik jabatan, jangan berharap mereka menjadi sinterklas yang membayar apa yang harus kita bayar. Mereka yang menjabat berkepentingan untuk menyediakan kesempatan yang adil, peluang yang baik, dan semua orang bisa bekerja dengan benar. Penjahat, preman, pencuri, harus ditindak dan disingkirkan dari masyarakat. Kita yang bekerja dengan benar, akan memperoleh bagian sesuai dengan apa yang kita kerjakan, manfaat yang kita berikan.

Yang terakhir.... bagaimana jika terjadi MUSIBAH? Tidak ada yang menginginkan musibah. Tetapi juga tidak ada yang bisa menolak ketika musibah sudah terjadi.... dan akibat lanjutan dari musibah pun terjadi. Saat musibah terjadi, misalnya kecelakaan dan harus pasang pen di tulang paha, harus bayar operasi Rp 60 juta. Bisa ditawar? Tidak!

Bagaimana jika musibah itu menuntut bayaran Rp 200 juta, misalnya harus operasi bypass jantung? Atau, amit-amit, meninggal dunia sehingga seluruh rencana Rp 1,5 Milyar itu GAGAL..... siapa yang mau bayar harganya? Siapa yang sanggup? Tapi, HARUS ADA YANG BAYAR, suka atau tidak suka.

Maka, pertanyaannya: apakah mau bayar SENDIRI nilai yang besar itu, atau memilih membayar setiap bulan suatu jumlah yang kecil dan sanggup dipenuhi, sehingga jika terjadi musibah tidak perlu membayar jumlah yang besar, karena dibayari oleh pihak yang menanggung musibah?

Uang yang menanggung musibah itu namanya UANG PERTANGGUNGAN. Pihak yang menanggung musibah alias penanggung itu namanya LEMBAGA ASURANSI. Sudahkah punya asuransi yang cukup untuk menanggung musibah yang mungkin terjadi?

Asuransi Jiwa dengan UP sebesar Rp 1,5 M itu memastikan keberhasilan investasi Rp 2 juta per bulan selama 20 tahun. Untuk seorang pria berusia 35 tahun, dana yang harus dikeluarkan adalah Rp 1.302.083 setiap bulan selama 10 TAHUN SAJA.... atau Rp 15.625.000 per tahun.
Atau total Rp 156.250.000 seluruhnya.... memberi UP 1,5 M. Itu artinya menaruh 10,41% dari total MANFAAT yang diterima. Bagus?

Hitungan ini memberikan angka: 2 juta + 1,302 juta = 3,302 juta per bulan selama 10 tahun, lalu 2 juta per bulan selama 10 tahun berikutnya. Jika kita membuat pengaturan budget yang baik, kira-kira butuh 20% utk investasi dan asuransi.... itu berarti pendapatan Rp 16,5 juta per BULAN dibutuhkan.

KITA HARUS KERJA MEMPEROLEH Rp 16,5 juta.

Pemerintahan yang baik, kesempatan yang baik, memungkinkan kita memperoleh tiap bulan Rp 16,5 juta. Caranya bisa dengan menjadi karyawan yang penting..... bisa juga dengan jadi pengusaha.

Jualan bakso, atau jualan pisang molen, atau jualan gudeg yg enak, bisa memberikan pendapatan Rp 16,5 juta per bulan lho. Ada juga yang jualan baju di internet. Bisa gabung dengan Tokopedia.

Oh, peluang banyak, jika pemerintah benar. Misalnya, membangun jalan tol yang menjangkau semua kota sehingga kita bisa kirim barang ke semua kota, bukan cuma di pulau Jawa. Juga jualan ke Kalimantan, atau Sulawesi, atau Papua. Infrastruktur itu sangat penting, karena memberi kesempatan, kemungkinan untuk berkembang.

Masih mau dibayar untuk hak suara dalam pemilih? Anda membuat kesempatan baik itu hilang bagi semua orang, termasuk diri Anda sendiri.

Yuk, menjadi bijaksana.

No comments:

Post a Comment