Consultation

Donny A. Wiguna CFP, QWP, AEPP, QFE adalah QUALIFIED FINANCIAL EDUCATOR, dari FPSB sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Melayani konsultasi dan bantuan penjelasan serta pelatihan Asuransi, Investasi, Dana Pensiun, dan Estate Planning. Berpengalaman mengajar dalam keuangan sejak 2007.

Hubungi Donny A. Wiguna dengan SMS atau Whatsapp di 0818-222-634
Area Bandung dan Jakarta serta sekitarnya.

Pencarian

Friday, February 24, 2017

INVESTING 101 (Mengulang Lagi)

APA BEDANYA MENABUNG DENGAN BERINVESTASI? Mungkin orang (baca: agen) menunjukkan tentang besarnya perbedaan bunga yang diberikan. Tapi, bukan itu yang perlu dipahami soal menabung versus menginvestasikan dana.

Begini, kalau orang menabung 10, lalu bulan depan 10, lalu bulan depannya lagi 10, maka saldo tabungan minimal besarnya adalah 30. Di dalam tabungan ada suatu kepastian, yaitu pasti nominalnya tidak akan kurang dari nominal yang dimasukkan. Lalu, bagaimana dengan berinvestasi?

Kalau orang menginvestasikan 10, lalu bulan depan 10, lalu bulan depannya lagi 10, maka nilai investasi di akhir periode tidak dapat dipastikan. Bisa 30. Bisa jadi 60. Bisa juga menjadi 20. Ketika seseorang menginvestasikan dana, ia mengubah uang tunainya menjadi suatu bentuk aset. Nilai dari aset bisa menjadi makin tinggi karena harganya meningkat, tapi bisa juga harga aset turun. Dalam investasi, jumlah asetnya tidak berubah, namun harganya berubah-ubah.

Maka, dalam investasi ada dinamika nilai. Kalau banyak yang mau beli tapi sedikit yang jual, maka harga aset naik. Kalau banyak yang jual tapi sedikit yang mau beli, maka harganya turun. Apakah kita bisa mengetahui apakah besok banyak yang mau beli? Ya, mungkin kita bisa mengetahuinya karena ada kondisi ekonomi yang melanda semua orang. Ini disebut analisa fundamental.

Namun, walaupun kita tahu besok banyak yang mau beli, apakah semua pembeli itu akan datang bersama-sama? Belum tentu. Kapan mereka akan bertindak untuk membeli? Ada interaksi di pasar yang terjadi, ketika para pembeli menunggu pemimpin pasar bergerak. Ada sentimen yang terjadi, baik sentimen positif maupun sentimen negatif. Ini disebut analisa teknikal.

Keputusan untuk berinvestasi seharusnya didasarkan pada pemahaman pertama: ke dalam aset apakah dana akan diubah? Apakah semua uang akan diubah menjadi satu aset, misalnya ditanamkan dalam sebuah properti? Ada risiko di sini. Bagaimana jika properti tersebut mengalami kebakaran? Bagaimana jika runtuh karena terkena gempa bumi? Bagaimana jika harga properti jatuh menjadi jauh lebih rendah daripada harga pembelian?

Itulah sebabnya dalam berinvestasi diberi saran untuk tidak menaruh (atau mengubah) semua dana dalam satu aset, satu objek saja. Setiap orang mempunyai kondisi tertentu, dan disarankan untuk menaruh sebagian dana di aset ini dan sebagian lain di aset sana, serta juga mengambil beberapa aset lain. Kumpulan pilihan-pilihan aset yang beragam ini disebut portofolio investasi. Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang -- kalau keranjangnya jatuh, hancurlah semuanya.

Jadi, bagian ketiga dari berinvestasi adalah memikirkan seperti apakah kondisi yang bisa diterima oleh kita sebagai investor. Seperti apakah profil diri kita? Apakah kita sanggup menanggung perubahan harga yang besar dalam jangka waktu singkat? Harganya naik turun naik turun, membuat nilai investasi seperti menunggang kuda rodeo. Lalu dalam satu saat, harga asetnya begitu rendah sehingga nilai investasi tinggal sepersepuluhnya. Menyeramkan!

Investor yang berjiwa konservatif, biasanya sudah berusia lanjut, menginginkan ketenangan dan ketentraman, tidak nyaman menghadapi situasi begini. Mereka disebut sebagai orang-orang yang menjauhi risiko yang besar alias disebut risk averse. Harga turun naik seperti rodeo? No no no. Jadi carinya aset yang tenang dan kalem, walau aset seperti itu juga cenderung tidak mengalami kenaikan harga yang besar. Dikatakan, dengan risiko yang kecil, maka hasil investasi juga kecil.

Beda lagi dengan investor yang berjiwa agresif dan pemberani, biasanya masih muda dan produktif. Produktivitasnya melebihi kebutuhan hidupnya sendiri, jadi penurunan investasi dalam jangka pendek tidak meresahkannya. Mereka mencari aset-aset yang sekarang harganya murah, mengalami proses naik turun yang besar, dan sekian tahun kemudian memberi nilai investasi yang jauh lebih tinggi. Harga naik turun? Bagus! Selama ada harapan harga akan melambung tinggi nanti.

Pengenalan profil menjadi konservatif, moderat, agresif, atau spekulan -- semua ini menentukan bagaimana portofolio dibentuk. Kapan dan berapa banyak berinvestasi, serta apa yang jadi targetnya -- ini semua masuk dalam analisa manajemen keuangan.

Diringkas, ada tiga analisa yang dibutuhkan untuk berinvestasi: analisa fundamental, analisa teknikal, dan analisa manajemen keuangan. Ketiga analisa ini perlu dilakukan secara konsisten secara periodik, seperti orang yang sedang menyetir mobil atau motornya. Ada perubahan yang perlu dilakukan, ada saatnya aset investasi ditambah (seperti kendaraan tancap gas), ada saatnya investasi diubah kembali jadi uang (seperti direm), kadang perlu mengganti aset seperti belok kiri dan kanan.

Kita tidak tahu apakah tahun depan, atau lima tahun lagi, kondisi investasi akan bagus atau buruk atau berapakah nilainya -- sama seperti kita tidak tahu seperti apakah kondisi di jalanan di kota Surabaya sedang sekarang kita masih berada di Jakarta. Tetapi kita bisa mengetahui apa yang ada persis di depan kita. Jika ada seseorang melemparkan bola kepada kita, posisi tubuh kita sudah bersiap menerima sebelum bola itu sampai ke posisi kita. Begitu juga dengan investasi, dalam jangka pendek kita bisa menganalisa apakah akan naik atau turun. Dalam kondisi di mana tingkat risiko meningkat, analisa harus semakin sering dilakukan untuk memanajemen risiko yang muncul.

Kalau tidak bisa dianalisa sama sekali, itu namanya bermain judi. Berinvestasi tidak sama dengan berjudi. Tidak ada orang yang sejahtera dengan berjudi.

Sekarang, bila berinvestasi dikaitkan dengan asuransi -- jadi Produk Asuransi Yang Dikaitkan dengan Investasi diakronimkan PAYDI, apakah yang perlu diperhatikan? Perlu dipahami bahwa tujuan dalam berinvestasi di asuransi adalah untuk meningkatkan besarnya premi, sehingga untuk menutupi biaya asuransi yang timbul bisa ditanggung sebagian dari hasil investasi.

Caranya, perusahaan asuransi akan secara rutin mencairkan investasi menjadi dana untuk membayar biaya asuransi. Di sini ada asumsi yang salah bahwa hasil investasi selalu positif, selalu tinggi. Kenyataannya tidak seperti itu; justru karena berivestasi, pencairan aset investasi dilakukan pada saat harga sedang turun, sehingga sebaliknya dari meningkatkan, investasi justru membebani Nasabah dengan kerugian yang direalisasikan.

SEMUA Nasabah yang mengambil PAYDI seperti produk Asuransi Unit Link harus menghadapi hal ini. Sekalipun niatnya adalah berasuransi, namun keterkaitan dengan investasi membuat kerugian tetap bisa terjadi. Walaupun di kemudian hari harga aset kembali naik, tapi di sepanjang perjalanan sudah terjadi pencairan-pencairan yang menghilangkan banyak dana Nasabah. Tidak ada jaminan yang bisa diberikan atas naik turunnya harga, perusahaan asuransi akan selalu mengambil biaya dengan mencairkan investasi secara periodik, apapun kondisinya.

Karena itu, sebenarnya asuransi unit link mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan investasi dalam bentuk reksa dana, yang sama-sama memakai satuan unit sebagai aset. Dengan besarnya risiko, dibutuhkan pengelolaan investasi yang lebih baik. Asuransi unit link menyediakan sarana perpindahan dana yang disebut switching. Nasabah dan agen bisa memanfaatkan switching ini untuk mengendalikan risiko, sehingga kerugian yang besar dapat dihindari.

Bijaksanalah dengan investasi yang Anda lakukan.

No comments:

Post a Comment