Consultation

Donny A. Wiguna CFP, QWP, AEPP, QFE adalah QUALIFIED FINANCIAL EDUCATOR, dari FPSB sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Melayani konsultasi dan bantuan penjelasan serta pelatihan Asuransi, Investasi, Dana Pensiun, dan Estate Planning. Berpengalaman mengajar dalam keuangan sejak 2007.

Hubungi Donny A. Wiguna dengan SMS atau Whatsapp di 0818-222-634
Area Bandung dan Jakarta serta sekitarnya.

Pencarian

Tuesday, June 28, 2016

Asuransi dan Iman

TAHUN 2008 SAYA SIARAN DI RADIO, seorang Pendeta menolak Asuransi Jiwa. "Berasuransi itu tidak beriman," katanya. Sampai saat ini juga saya masih mengajar agen, dan harus jawab keluhan serupa. "Pak, katanya dia mau bergantung pada Tuhan Yesus saja, bukan pada asuransi. Mesti ngomong apa?"
Eh, agen lain yang muslim juga mengatakan hal serupa. Jangan ambil asuransi jiwa. Merusak iman, kata khotib. Nah lho....
Ijinkan saya untuk menjawab secara teologia Kristen, karena saya juga seorang teolog, sesuai studi S2 saya. Mohon permisi sebelumnya ya.
Yang pertama, Firman Tuhan lewat surat kepada jemaat di Galatia menyatakan, (Galatia 6:2) Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
Tuhan itu memiliki segala sesuatu. Semua dijadikan oleh Tuhan. Dia mengasihi manusia, dia memelihara kehidupan. Tapi, Tuhan bukan sinterklas yang hobinya hanya bagi hadiah. Dia bukan Sang Dermawan yang hanya memberi kesana kemari.
Dia adalah Bapa, yang ingin anak-anaknya dewasa. Tanda kedewasaan adalah bertanggungjawab atas apa yang dipercayakan. Tuhan memberi banyak hal, bukan? Dia beri karunia, Dia beri pengetahuan, Dia beri kemampuan - semuanya agar kita mampu bekerja, mampu bertanggungjawab.
Tuhan mau agar manusia menikah, lelaki dan perempuan, membangun keluarga, memiliki anak dan cucu. Seorang laki-laki bertanggungjawab atas istri dan anak-anaknya. Dengan segala berkat Tuhan, ia bisa bekerja memenuhi tuntutannya. Istri juga berperan sebagai penolong yang sepadan, bersama-sama mereka membangun keluarga, menjalani kehidupan.
Apakah Tuhan memelihara kehidupan? Ya, pasti. Namun, apakah karena Tuhan memelihara, lantas suami tidak lagi perlu mengurus keluarganya? Boleh tidak peduli?
Ada yang bilang, bagaimana seorang manusia sanggup seorang diri menanggung keluarga? Di sinilah kita melihat, bahwa hukum Kristus, hukum Kristen terwujud dalam perilaku saling bertolong-tolongan.
Ketika para Rasul memimpin gereja mula-mula, masalah muncul karena kehidupan para janda terabaikan. Tidak boleh begitu, membiarkan para janda berjuang sendiri. Maka dipilihlah tujuh orang yang ditunjuk untuk mengurus hal ini. Menjadi janda adalah tantangan sepanjang jaman, sampai hari ini. Mereka butuh hidup. Siapa yang menyediakan dananya?
Bisakah kita bilang, marilah kita berdoa saja agar Tuhan yang mengurus mereka? Turunkan uang dari langit?
Asuransi jiwa tidak pernah bermaksud mengambil alih posisi Tuhan. Tidak menjadi pelindung, pemberi keselamatan, atau memberi masa depan yang lebih baik. Asuransi jiwa adalah perjanjian, dimana yang sehat dan terberkati boleh membayar premi, agar dana yang terkumpul itu bisa diberikan kepada para janda untuk memelihara kehidupan mereka.
Tidak ada yang bertentangan dengan iman dalam berasuransi. Ini adalah kontrak hukum dalam hal ekonomi, sama seperti banyak kontrak lainnya. Tidak akan melebihi apa yang tertulis. Tidak menjadi sesuatu yang supranatural, dan pastinya bukan jadi sumber keselamatan.
Sebagai perjanjian, asuransi jiwa bersifat terbatas. Jika uang pertanggungan terlalu kecil, ya kurang. Jika penggantian rumah sakit dibatasi ketentuan dan tidak sesuai tagihan, ya Nasabah harus nombok. Biaya Rumah Sakit tidak akan didiskon jika penggantian asuransi terlalu kecil.
Asuransi adalah wujud dari iman, bertanggungjawab bertolong-tolongan menanggung beban. Uang premi yang dibayarkan ke asuransi itu terus dikumpulkan, oleh perusahaan asuransi dan reasuransi, hingga bisa disalurkan kepada keluarga yang ditinggal mati tertanggung. Itu adalah hibah, bukan utang. Bukan investasi.
Agen yang baik memastikan tiga hal. Yang pertama, kondisi tertanggung masih sehat. Orang berisiko sakit, artinya mungkin sakit... bukan TELAH sakit. Sangat tidak adil jika seorang yang sudah sakit dan pasti menguras dana, lantas masuk dan mengambil semua dana asuransi yang terkumpul.
Yang kedua, agen asuransi harus memastikan bahwa manfaat asuransi memang layak bagi nasabah. Bukan asal punya polis asuransi jiwa. Namanya rencana, maka harus ada analisa. Bukan asal kecil preminya, asal closing.
Yang ketiga agen harus menjelaskan bahwa premi memang harus dibayar, itulah perjanjiannya. Jangan dianggap remeh, mentang2 tidak pernah kena musibah. Jangan ditelantarkan. Kadang orang merasa berat bayar premi karena uangnya mau dipakai beli barang. Atau mau dipakai jalan-jalan. Hormatilah Perjanjian, bayarlah preminya.
Kadang orang pakai isu agama dan iman supaya tidak perlu keluar uang premi, karena sudah berencana uangnya mau dipakai untuk konsumsi sesuatu. Tapi, itu menipu diri sendiri... bisakah orang menipu Tuhan?
Jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya.... ia berdosa.
Mari berasuransi, karena kita mengasihi sesama kita manusia. Asuransi jiwa membuat perjanjian, alias polis, dengan segala bangsa, segala agama, segala golongan, untuk menanggung musibah yang terjadi dalam hidupnya.

2 comments:

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.name
    dewa-lotto.org

    ReplyDelete
  2. saya mahfum karena yg menulis ini adalah theolog yg bekerja di asuransi kl saya sbg nasabah yg mengimani Yesus sbg Tuhan Allah yg punya kuasa menolong umatnya maka bertolong tolongan dlm konteks keluarga suami kepada isteri adalah menolong agar isteri juga bisa mandiri punya kemampuan yg bisa digunakan pd saat suami tiada isteri bisa berkarya meneruskan biduk rumah tangga..menurut saya itu maksud bertolong tolongan sbb meskipun dikasih dana besar kl isteri tidak ditolong dalam kemandirian ya hanya sesaat saja fungsinya berlaku ..Ini pendapat dan boleh beda

    ReplyDelete