Consultation

Donny A. Wiguna CFP, QWP, AEPP, QFE adalah QUALIFIED FINANCIAL EDUCATOR, dari FPSB sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Melayani konsultasi dan bantuan penjelasan serta pelatihan Asuransi, Investasi, Dana Pensiun, dan Estate Planning. Berpengalaman mengajar dalam keuangan sejak 2007.

Hubungi Donny A. Wiguna dengan SMS atau Whatsapp di 0818-222-634
Area Bandung dan Jakarta serta sekitarnya.

Pencarian

Tuesday, August 16, 2016

MERDEKA!

KEMERDEKAAN ADALAH KEMAMPUAN UNTUK MEMILIH SENDIRI TUJUAN HIDUP, bebas dari ikatan, bebas dari paksaan. Kehidupan berjalan sebagaimana realita, ada hujan dan ada kemarau, ada susah dan ada mudah. Kemerdekaan bukan berarti bisa membentuk realita sekehendak hati, atau bebas untuk melakukan apa saja semaunya. Itu bukan merdeka, melainkan liar. Kemerdekaan bukanlah keliaran! Untuk merdeka, para pahlawan telah memberikan nyawa mereka, darah mereka tumpah ke atas tanah. Untuk Indonesia merdeka, mereka mengorbankan diri.


Apakah di jaman post-modern ini, orang masih merdeka? Kenyataannya, banyak yang terikat. Secara finansial, banyak orang diikat oleh hutang. Ketika orang berhutang, tujuan hidupnya diikat, dipaksa untuk memenuhi satu hal: membayar hutang. Rasanya, mungkin, kita semua sudah tahu seperti apa rasanya berhutang. Apa rasanya datang waktu jatuh tempo, dan harus mengelola segala sesuatu untuk membayar. Berbahagialah mereka yang bisa melunasi hutangnya!

Ada empat macam hutang yang dapat diambil oleh individu. Keempat-empatnya dapat memberatkan, menjadi suatu tuntutan yang harus dipenuhi, dilunasi. Keempat hutang itu adalah, pertama merupakan hutang konsumtif, yaitu berhutang untuk memenuhi konsumsi. Kedua merupakan hutang produktif, yaitu berhutang modal kerja, untuk memutarkan roda produktivitas sehingga hasilnya dapat menutup hutang, juga masih cukup lebihnya sebagai keuntungan.


Ketiga adalah hutang pembelian aset, yaitu berhutang untuk memperoleh aset di mana peningkatan nilai atau pendapatan dari aset lebih besar daripada bunga hutangnya. Satu contoh adalah hutang KPR, di mana peningkatan harga properti di wilayah tertentu dapat lebih besar daripada bunga KPR.

Yang keempat adalah hutang untuk menutup musibah, atau peristiwa yang tidak terduga dan sangat merugikan. Mendadak masuk rumah sakit, harus dioperasi habis sekian puluh juta. Mendadak kena serangan jantung, harus dioperasi habis sekian ratus juta. Mendadak sang ibu lumpuh karena stroke. Mendadak sang ayah meninggal dunia kena serangan jantung. Semua menuntut biaya yang besar, melebihi jumlah tabungan yang ada. Akibatnya, ya harus berhutang. Habis mau bagaimana lagi?

Tidak tahu. Tidak bisa ditolak. Tidak bisa ditawar.


Karena berhutang dalam keadaan terpaksa, itu seperti memindahkan akibat dari musibah di saat ini ke suatu ketika di masa yang akan datang. Tidak ada yang baik dari hutang kematian model keempat ini (mungkin itu sebabnya, tombol lift seringkali tidak mencantumkan nomor empat), sama sekali tidak menyenangkan, seratus persen terpaksa. Hutang keempat ini merenggut kemerdekaan. Pernah dengar, ada anak perempuan dijual ke sindikat perdagangan manusia agar ada uang untuk menutupi biaya pengobatan ayahnya? Kombinasi dari butuh uang segera, padahal yang ada hanya wajah cantik dan tubuh menarik.

Maaf, jangan terlalu cepat melecehkan pelacur. Barangkali para perempuan itu juga sedang menjadi pahlawan bagi keluarganya, dengan menanggung kehidupan yang sangat hina ini.

Asuransi adalah jalan keluar yang memberi kemerdekaan dari akibat suatu musibah. Ketika sakit, ada dana. Ditagih puluhan juta, ditagih ratusan juta, bahkan ditagih miliaran Rupiah -- bisa dibayar oleh Asuransi. Kematian datang merenggut Ayah dari keluarga? Kesedihannya tidak akan dapat diobati, namun ada dana yang menggantikan pendapatan yang hilang. Untuk sementara, keluarga masih dapat hidup normal -- sampai dilakukan penyesuaian untuk berjuang hidup tanpa Ayah.

Membayar premi asuransi adalah pengorbanan kecil, untuk memperoleh kemerdekaan yang besar. Pokok utama dari berasuransi adalah menjaga kemerdekaan keluarga.


Sayangnya, banyak keluarga di Indonesia yang terjerat hutang. Lebih sedih lagi, pemberi hutangnya bukan bank atau lembaga pembiayaan, melainkan rentenir, yang mencekik menghabiskan kekayaan keluarga yang tersisa dengan cepat. Hutang karena musibah itu sudah habis dipakai untuk bayar rumah sakit, atau bayar perbaikan rumah yang terbakar. Habis itu, kini hutang harus dibayar dengan bunga yang tinggi sekali.

Di Indonesia, banyak musibah yang memiskinkan orang, bahkan mereka yang sebelumnya nampak makmur. Apakah kalau seorang dokter dengan penghasilan lebih dari Rp 50 juta per bulan tidak butuh asuransi? Ada yang merasa demikian, ia anti asuransi. Ia ingin jadi beriman.

Ketika ia meninggal, ada hutang-hutang yang harus dibayar -- hutang kartu kredit, misalnya. Selama ini tidak mau bayar perlindungan atas kredit, karena menolak asuransi. Merasa itu hanya buang-buang uang saja. Ketika ia meninggal, beban kredit puluhan juta itu jatuh kepada janda, untuk melunasi seluruhnya segera. Tidak boleh bayar sebagian lagi.

Menyesal tidak punya asuransi? Punya asuransi yang pertanggunannya terlalu kecil? Jika musibah datang, sudah terlambat berasuransi dengan benar. Musibah itu merenggut kemerdekaan manusia.

Bagi Anda belum terlambat untuk memastikan kemerdekaan keluarga, pertimbangkanlah! Jangan sampai keluarga harus berhutang model keempat, hutang untuk menutup musibah. Kita masih merayakan kemerdekaan Indonesia dengan sungguh merdeka, bukan?

Prihatin dengan mereka yang hari ini tidak lagi merdeka karena beban hutang mengikat mereka....

Sampai besok lagi,

MERDEKA!


No comments:

Post a Comment