Consultation

Donny A. Wiguna CFP, QWP, AEPP, QFE adalah QUALIFIED FINANCIAL EDUCATOR, dari FPSB sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Melayani konsultasi dan bantuan penjelasan serta pelatihan Asuransi, Investasi, Dana Pensiun, dan Estate Planning. Berpengalaman mengajar dalam keuangan sejak 2007.

Hubungi Donny A. Wiguna dengan SMS atau Whatsapp di 0818-222-634
Area Bandung dan Jakarta serta sekitarnya.

Pencarian

Wednesday, July 6, 2016

Manajemen Risiko

MANAJEMEN RISIKO adalah konteks dimana Asuransi berfungsi. Kalau bicara risiko, yang dibahas adalah kerugian yang MUNGKIN terjadi di masa yang akan datang. Bukan kerugian yang sudah terjadi, juga bukan suatu peristiwa yang telah terjadi tapi efek kerugiannya baru akan menyusul belakangan.
Risiko juga dilihat dalam besarnya akibat finansial, serta dilihat dari frekuensi kemungkinan terjadinya peristiwa. Untuk itu prosesnya dimulai dari identifikasi risiko, kemudian pengukuran risiko, baru kemudian menentukan penanganan risiko. Ada hal-hal yang harus dikendalikan, ada hal-hal yang bisa di danai.
Bicara kesehatan, misalnya, ada hal yang perlu dikendalikan: jangan merokok, jangan makan sembarangan, jangan ikut olahraga ekstrim yang berbahaya. Mungkin keren dan asyik terlihatnya, tapi tidak baik bagi kesehatan. Ini adalah manajemen risiko berdasarkan pengendalian.
Tapi ada hal-hal yang bisa terjadi tanpa diduga: bisa musnah, rusak, hilang, meninggal, cacat, dan juga hidup terlalu lama. Ya, hidup terlalu lama termasuk risiko yang tidak diduga, juga merupakan suatu kerugian.
Kalau dibilang kerugian, ada pihak yang mengalami kerugian, maka berkepentingan untuk suatu perjanjian Asuransi. Kepentingan berasuransi ini disebut INSURABLE INTEREST, membutuhkan penggantian atas kerugiannya -- sudah dibahas dalam posting sebelumnya tentang indemnity.
Bagaimana caranya mengantisipasi kerugian yang mungkin akan terjadi? Caranya adalah dengan suatu skema kolektif, di mana sejumlah besar orang bersama-sama berjanji untuk memberikan iuran atau premi, dari kata premium. Orang yang membayar premium adalah orang utama yang diproteksi nilai asetnya di dalam masyarakat.
Jadi dalam asuransi, premi dikumpulkan dari semua yang mengikatkan diri dalam perjanjian Asuransi, atau polis. Yang membuat perjanjian disebut Pemegang Polis. Yang dialihkan risikonya adalah objek Asuransi, dan jika objeknya adalah manusia maka dia disebut Tertanggung.
Semakin besar nilai risiko yang dialihkan, semakin besar pula preminya. Yang menghitung besarnya premi, adalah orang-orang yang disebut AKTUARIA. Saat ini cara perhitungan aktuaria sudah sangat canggih, berangkat dari hukum bilangan besar (law of large number) secara statistik, bukan saja menghitung premi tapi juga menghitung berapa kesanggupan perusahaan asuransi dalam menanggung risiko, perkiraan hasil investasi atas premi, dan perubahan ekonomi.
Apakah bayar Asuransi sia-sia jika tidak kena musibah? Tidak sia-sia, karena premi yang kita bayarkan itu menjadi manfaat bagi orang lain yang kena musibah.
Apakah nilainya Asuransi itu tidak tentu dan merupakan judi, seperti berjudi apakah bisa hidup lagi besok? Tidak, nilai pertanggungan dari Asuransi itu pasti dan sebenarnya diharapkan dapat hidup panjang secara wajar.
Apakah ada risiko dalam berasuransi? Sedihnya, ada.

Yang pertama, ada ketidakpastian Nasabah mampu terus menerus membayar premi. Jika ia mengalami kesulitan keuangan, maka tidak lagi bisa membayar premi, maka Asuransi berhenti.
Ketika asuransi berhenti, atau orang baru berasuransi di usia lanjut, maka ada kemungkinan bagian Underwriting tidak menerima peserta Asuransi secara standar. Bisa dianggap sub-standar, dianggap tingkat risikonya lebih tinggi, maka harus bayar premi lebih tinggi. Bisa ditunda dulu. Bisa juga ditolak secara permanen.
Tidak semua pengajuan asuransi pasti diterima secara normal, karena asuransi dibuat atas asumsi tingkat risiko standar. Yang tidak masuk dalam asumsi itu, tidak bisa diterima.
Agen asuransi yang baik harus memahami manajemen risiko, mampu melihat apa saja risiko, mengukurnya, dan membuat rekomendasi manfaat asuransi yang dibutuhkan. Jangan berasuransi di kala tidak lagi mampu. Seleksi awal dilakukan oleh agen, jadi tidak benar jika berusaha memasukkan semua orang ke dalam asuransi.
Kalau bisa dibilang judi.... itu adalah ketika seorang yang tidak punya produktivitas, mengambil asuransi, lalu berharap kena musibah supaya dapat penggantian atas hal yang tidak dimilikinya.
Sambung lagi besok...

No comments:

Post a Comment