Consultation

Donny A. Wiguna CFP, QWP, AEPP, QFE adalah QUALIFIED FINANCIAL EDUCATOR, dari FPSB sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Melayani konsultasi dan bantuan penjelasan serta pelatihan Asuransi, Investasi, Dana Pensiun, dan Estate Planning. Berpengalaman mengajar dalam keuangan sejak 2007.

Hubungi Donny A. Wiguna dengan SMS atau Whatsapp di 0818-222-634
Area Bandung dan Jakarta serta sekitarnya.

Pencarian

Sunday, July 17, 2016

Rencanakan Pendidikan Anak

BAGI PARA AYAH BUNDA YANG MENCINTAI ANAKNYA, perkenankanlah saya menulis tentang rencana kehidupan anak-anak kita. Karena saya juga mempunyai dua orang anak, putra putri, satu di SMA dan satu lagi di SMP, saya ingin berbagi tentang pendidikan mereka.
Yang pertama, pendidikan anak-anak adalah bagian dari tanggung jawab orang tua. Kita bisa mendelegasikan tanggung jawab itu kepada sekolah -- tapi untuk itu kita perlu memilih sekolah apa yang layak didelegasikan. Sekolah itu bukan hanya tempat mengajar secara kognitif - akademik, tapi juga tentang budaya, agama, sosial... dan itu BUKAN berkaitan dengan diri kita.

Banyak orang tua yang membuat pilihan berdasarkan pengalaman dan kesukaan mereka sendiri. Tetapi, orang tua tidak dapat mengendalikan masa depan anak. Tidak bisa kita mengatur apa yang akan berhasil bagi mereka, atau apa yang tidak. Maka, kita harus melihat dunia seperti apa di masa depan, apa tantangan mereka, dan bagaimana anak-anak harus dibentuk.

Coba lihat di ujung perjalanan: ada 360.000 Sarjana yang menganggur. Tidak pernah ada statistik tentang berapa banyak sarjana yang berakhir hanya menjadi karyawan yang menempati posisi yang sama dengan lulusan SMK, dan menerima gaji yang sama. Seperti apakah anak-anak kita nanti akan menjadi?

Anak-anak tidak bisa memilih. Orang tualah yang perlu melihat tantangan masa depan, dan memilih pendidikan apa yang mampu membekali anak-anak dengan apa yang perlu. Dari sana, kita memilih pendidikan apa yang dibutuhkan.... dan jalurnya adalah menarik mundur ke belakang.

Kita memikirkan di ujung perjalanan, bidang apa yang mungkin cocok. Kuliah di mana? Jurusan apa? Dari sana kita memikirkan di mana SMA yang tepat untuk menyediakan pendidikan yang sesuai, SMA yang membekali cukup untuk mampu kuliah di sana. Untuk itu, di mana SMP yang memberikan pendidikan yang cukup untuk SMA seperti itu? Untuk itu di mana SD yang memberikan pendidikan yang cukup untuk SMP seperti itu? Dan TK mana yang sesuai....?

Di dalam usia awal, pendidikan iman dan sosial sangat penting, lebih penting daripada kognitif - akademik. Di TK, tidak penting anak bisa calistung atau bicara banyak bahasa (betapa banyak yang bangga anaknya bisa begitu). Lebih penting anak TK belajar tentang iman, tentang bergaul, sopan santun, dan kegembiraan belajar. Soal calistung, itu bisa ditekuni dalam kelas 1 dan 2 SD, dan kegembiraan belajar perlu dikembangkan sepanjang sekolah dasar.

Tahukah Anda, bagian terpenting dari belajar adalah menjadi gembira untuk belajar, menumbuhkan minat untuk mengetahui sesuatu secara mendalam? Kalau anak-anak sudah menjadi sangat tertekan untuk belajar, mungkin ia dapat berhasil mencapai nilai baik namun gagal untuk menyukai belajar.

Soal nilai, kita mungkin terlalu mendewakan nilai. Apa sih arti dari nilai rapor? Itu menunjukkan pencapaian relatif terhadap apa yang ditetapkan oleh guru. Bayangkan begini: ada dua sekolah yang berbeda, yang tentunya ada mengajarkan IPA. Hanya, di sekolah yang satu gurunya pandai sekali IPA, di sekolah yang lain gurunya kurang pandai -- hanya tahu seperlunya. Kedua guru memberikan nilai 9 kepada seorang murid di dalam rapornya.

Apakah makna dari kedua nilai 9 itu sama bagi kedua murid? Nilainya mungkin sama, tapi maknanya bisa berbeda. Di bawah guru yang pintar, angka 9 bermakna lebih tinggi dibanding angka 9 di bawah guru yang tidak sepintar itu. Kalau kedua murid itu diadu, mungkin akan terlihat perbedaannya.

Kondisi ini tidak bisa dihindari, karena untuk menguji, seorang guru tidak akan memberikan soal yang tidak bisa dijawabnya sendiri. Lalu, apakah seorang guru IPA pasti bisa menjawab semua soal IPA yang ada, kalau ia harus melakukannya seperti dalam sebuah ulangan?

Soal nilai -- ini tidak akan menentukan masa depan anak. Apakah seorang sarjana akan dinilai berdasarkan transkrip nya yang A semua? Tidak, seorang akan dinilai berdasarkan kemampuannya. Sekalipun ia punya deretan nilai A, tapi kalau tidak bisa bekerja dengan baik tetap tidak berharga bagi pelanggan (kalau kerja sendiri), atau bagi perusahaan (kalau jadi karyawan).

Masa depan anak yang cerah tergantung dari kemampuan orang tua untuk melihat tantangan dan mempersiapkan anaknya menghadapi tantangan itu.

Lalu, muncullah perhitungan biayanya. Ada biaya kuliah, mulai dari membeli formulir masuk, hingga membayar biaya wisuda. Ada biaya SMA. SMP. SD. Banyak orang tua sanggup untuk bayar di tingkat bawah, tapi setengah mati membayar kuliah. Karena itu, perencanaan keuangan dimulai dari ujung terjauh.

Apakah orang tua sanggup untuk menabung? Berat. Lebih ringan jika dibantu oleh investasi. Persiapan biaya pendidikan membutuhkan INVESTASI, bukan asuransi. Ayah dan bunda, jika sungguh mencintai ananda, harus bersedia untuk menyisihkan dana yang cukup setiap bulan sejak ananda masih kecil.

Saya kadang heran dan sedih, bertemu dengan orang tua yang ingin buat perencanaan pendidikan, tapi hanya bersedia menyisihkan dana SESEDIKIT MUNGKIN untuk investasi pendidikan anaknya..... sesedikit mungkin investasi berarti sesedikit mungkin pendidikan berkualitas!

Ada harga yang harus dibayar. Jika orang tua tidak bersedia untuk menyisihkan dana yang cukup, maka kemungkinan cukup besar kelak tidak dapat menyediakan pendidikan yang sesuai dengan rencana. Mungkin secara gelar, anaknya tetap menjadi sarjana... namun seperti apakah kehidupan yang berhasil dibangun?

Dan itu bukan hanya tentang tempat kuliah. Banyak bukti bahwa pendidikan yang kuat dan benar di masa SD - SMA, berhasil mengantarkan anak menjadi pengusaha yang berhasil, walaupun tidak lulus kuliah.

Bagian berikutnya, kita akan membahas tentang perencanaan biaya pendidikan, dan apa saja yang dibutuhkan.

Sambung besok lagi ya.....

No comments:

Post a Comment